Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi!
Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi!
Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi!
Aku kembali lagi dengan sebuah kisah sendu sekaligus cerah. Dalam kesendirian dan perkelanaan yang panjang, terkadang jiwaku kering. Jiwaku haus akan siraman embun-embun sejuk dari langit. Diri ini terkadang futur (kembali melakukan maksiat) saat harus berdiri sendiri melalang buana melangkahkan kaki meninggalkan halaqoh yang selama ini terus menguatkan. Halaqoh yang selama ini kembali menginstall ulang iman yang meredup. Ya, sekarang aku tetap sendiri. Aku berpisah dengan sembilan laskar jihad lainnya yang kini terpencar ke tiga penjuru mata angin. Kadang hati ini merasa risau. Hati ini takut bila nanti tidak menemukan kedamaian dan manisnya iman. Diri ini takut bila tidak ada yang menopang, bila diri ini tidak kuat berdiri dan terjatuh karena imbas lingkungan yang aku sendiri belum tahu seluk beluknya.
Jiwa yang sepi ini tiba-tiba tercerahkan. Aku membaca kata-kata yang membuatku merasa segar. Membuat jiwa ini merasa begitu bodoh dan bejat jika tetap harus bersimpah dosa menapaki jalan ini.
Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi! (yang artinya : Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku). Bibirku terus berucap. Kalimat itu ku tanamkan dalam-dalam di jiwaku. Sudah lama diri ini tak sadar akan futurnya diri. Bagiku kalimat itu membuat aku tidak merasa sendirian. Walau jauh dari sembilan laskar jihad, tapi aku akan berusaha tetap berdiri kokoh.
Aku teruskan membaca buku yang telah memberikan embun penyegar jiwa ini. Aku membaca sebuah kalimat yang dikatakan Muhammad bin Sanwar kepada keponakannya Sahl bin Abdullah Al-Tastari.
‘Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai Allah, dilihat Allah, dan di saksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’
Pertanyaan itu seakan mengarah pada diriku sendiri. Akan kah aku berbuat maksiat di tengah kesendirian ini? Bagaimana dengan menjaga diri dari dosa? Apakah sudah aku lakukan? Apakah selama ini aku tetap tenang di saat penggoda iman berlalu lalang? Atau aku terpengaruh dan terperanjat dalam lingkarang setan?
Aku hanya bisa bersimpuh. Jiwa ini kembali takut akan adzab Allah yang pedih. Tentu semuanya harus di jawab dengan kata TIDAK. Tapi aku ragu mengucapkannya. Karena aku tahu, bahwa diri ini tidak suci. Baik secara sadar ataupun tidak sadar, diri ini terus melakukan maksiat. Tapi aku berkeinginan keras untuk keluar, aku berkeinginan membersihkan diri dari segala debu yang selama ini menempel menutupi jiwa yang sebenarnya bersih. Insya Allah, semoga Allah terus menguatkan jiwa ini.
Hm.. bukan hanya aku yang merasakan kedahsyatannya.
Kalimat Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi! Sangat terkenal di kalangan ulama arif billah. Kalimat ini dikenal dengan kalimat pengusir maksiat. Ya seperti kutipan di atas, Bagaimana kita akan melakukan maksiat bila kita selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah???
Maknanya yang dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah ( selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah Azza wa Jalla, dimana dan kapan saja.
Begitulah yang dipaparkan oleh Syeikh Al-Azhar; Imam Abdul Halim Mahmud. Aku sendiri sangat amat setuju sekali. Ya, khususnya bagi diriku sendiri. Tidak bosan-bosan aku ajukan pertanyaan ini pada diriku sendiri:
Bagaimana kita akan melakukan maksiat bila kita selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah?
Sesungguhnya rasa itu akan menumbuhkan takwa yang tinggi kepada Allah Swt. Aku hanya akan merasa bodoh, jika setelah aku menulis ini lalu aku sendiri tetap melakukan maksiat dan terus berjalan di rel dosa. Semoga mulai hari ini hatiku tetap teguh. Insya Allah.
Semoga diri ini selalu di beri kemudahan dalam berjalan dalam dien ini. Semoga diri ini terjaga. Insya Allah.
19 Juli 2010
Senin, 19 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 komentar:
SUBHANALLAH SEKALI YA :')
Amalan Ringan yang sangat bermanfaat....
amalan ringan
tapi sangat dasyat manfaatnya
Posting Komentar