web 2.0

Selasa, 20 Juli 2010

Hari Duka

Hari Duka

Siang ini aku sedang asyik bermain game. Yach game tentang pembunuhan. Judulnya Plants vs zombie. Aku di haruskan membunuh para zombie dengan tanaman yang disediakan. Seperti the age of empire, aku harus membangun benteng pertahanan dan pasukan untuk menyerang. Yang paling aku suka adalah saat kepala zombie berjatuhan karena terkena corn attack ( apa itu corn attack?). Hm.. aku sampai lupa waktu. Tidak terasa adzan dzuhur sudah berkumandang. Game ku pause, dan segera kuambil wudlu. Tapi setelah itu aku maen game lagi. Huft... game yang membuat aku ketagihan. Solat dzuhur di masjid pun terlewatkan. Hm.. telpon berdering,

“Innalillahi wa inna illaihi ro’jiun.”

Kata-kata itu spontan terucap saat kabar duka aku terima. Eyang putri yang di semarang telah tiada dua jam lalu. Tentunya saat aku sedang membantai para zombie. Aku tidak menyangka saat itu eyang putri juga telah di bantai oleh malaikat izroil. T-T

Ba’da dzuhur aku dan mbak pinpon (panggilan akrab untuk kakakku yang lucu :D )menuju pemakaman Mojopitu. Ya, eyang memang akan di makamkan di Pati. Lama juga, aku sudah menunggu setengah jam, tapi jenazah belum juga datang. Suasana yang membosankan membuatku menjadi lebih bosan lagi ketika mendengar ocehan tanteku. Huufffft... cerewet sekali. Mbak pinpon yang di ajak ngobrol hanya mengangguk-angguk saja seperti Ayam. Pemandangan yang tidak ku harapkan. Tapi mau gimana lagi, di sepanjang mata memandang, hanya terlihat makam, makam, dan makam. Ya tidak ada jalan lain lagi, selain ikut terlarut dalam ocehan tanteku, dan aku akhirnya mengikuti tingkah kakaku yang daritadi mengangguk-angguk seperti ayam. Kik kuk kik kuk. Huftt.. aneh.

Dari Utara, mobil jenazah pun datang. Terlihat mobil-mobil pengantar mengekor di belakangnya. Aku merasa asing. Di sana sini terpampang muka saudara-saudara yang tidak aku kenal. Setiap kali di sapa aku hanya tersenyum. Maklum, di keluargaku hubungan seduluran antar buyut masih saja kuat. Tapi bagiku yang bisa di bilang ‘cit-cit’ nya ini, sering merasa asing bila berkumpul. Jelas saja, saudara yang jumlahnya lebih dari lima puluh orang hanya bertemu sekali dalam setahun. Itu pun tidak pasti. Ah...capek bila harus menghafal semuanya. Buku silsilah keluarga saja ada dua puluh lembar folio, yang isinya cuma nama-nama aja. Capek deh. Kaya ngapalin biologi aja. Sujono nama genus, muslim nama spesies. Aduh... capek deh.

Hm... Hatiku terenyuh. Tiba-tiba sikap konyolku tenggelam dalam sikap dramatis.
“Kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi kalian tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka.”

Hatiku berdesir. Bagamana mungkin aku bisa berpikiran konyol seperti tadi sementara di sekitarku mungkin banyak manusia yang sedang menjerit menerima siksa kubur. Aku tak bisa lagi tersenyum. Aku bertanya-tanya, apakah sekarang eyang sedang di sidang oleh malaikat munkar-nakir? Atau eyang sedang di cambuk karena tidak bisa menjawab? Atau eyang sedang beristirahat dengan tenang dengan di layani malaikat-malaikat tadi? Berjuta-juta pertanyaan timbul di pikiranku. Aku takut bila aku harus di sidang sekarang. Apa yang bisa aku banggakan di hadapanMu nanti ya Robb? Hatiku merintih kembali mengingat dosa-dosa yang mungkin telah setinggi gunung Muria. Aku gemetar mengingat-ingat hadist nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari melalui Samurah bin Jundab.

Pada suatu pagi hari Rasulullah Saw menceritakan kepada kami apa yang dilihat dalam mimpinya tadi malam : “ Sesungguhnya tadi malam aku kedatangan dua malaikat. Keduanya membangunkanku dan berkata : ‘Mari kita pergi!’ Aku pergi bersama keduanya, hingga sampailah kami ke tempat seorang lelaki berbaring, namun di dekatnya terdapat lelaki lain yang berdiri dengan membawa sebuah batu besar, kemudian batu besar itu di hantamkan ke kepala lelaki yang berbaring sampai meremukkannya dan batunya menggelinding ke arah sini. Selanjutnya, lelaki yang berdiri mengambil batu besar itu, dan saat dia kembali kepada lelaki yang berbaring, ternyata kepalanya sudah kembali seperti semula, lalu dia mengulangi perbuatannya seperti semula terhadapnya. Melihat pemandangan yang mengerikan itu aku bertanya : ‘Mahasuci Allah, apakah yang dilakukan oleh keduanya?’
Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi justru berkata kepadaku : ‘Mari kita teruskan perjalanan kita!’

Kami berangkat hingga sampai ke tempat seorang lelaki yang sedang terlentang, dan ternyata di dekatnya terdapat terdapat lelaki lain yang berdiri dengan membawa pengait besi. Tiba-tiba ia mendatangi salah satu sisi wajahnya, lalu memasukkan pengait itu ke salah satu ujung mulutnya, kemudian merobeknya sampai ke tengkuk, memasukkan pengait ke lobang hidungnya sampai ke tengkuk, dan memasukkan pengait ke lobang matanya sampai ke tengkuk. Kemudian dia mendatangi sisi wajahnya yang lain, lalu merobek ujung mulutnya sampai ke tengkuk, merobek lobang hidungnya sampai ke tengkuk, dan merobek lobang matanya sampai ke tengkuk. Sesudah itu ia beralih lagi ke sisi yang lain dan melakukan lagi hal yang semula. Ketika ia sampai di sisi itu trnyata sisi yang telah di robeknya telah kembali seperti semula. Usai itu dia melakukan hal yang sama ke sisi lainnya lagi, demikianlah seterusnya. Aku berkata : ‘Mahasuci Allah, apakah yang dilakukan oleh keduanya?’

Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita teruskan perjalanan kita!’

Maka kami berangkat hingga sampai ke sebuah tempat seperti tungku yang besar, dari dalamnya terdengar suara jeritan dan tangisan. Maka kami melongokkan pandangan kami ke dalamnya, ternyata di dalamnya terdapat banyak orang laik-laki dan perempuan yang telanjang. Sementara luapan api memanggang mereka dari bawah; apabila api itu datang menyembur mereka, mereka menjerit jerit kepanasan. Aku bertanya; ‘Siapakah mereka?’

Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita lanjutkan perjalanan kita!’

Maka kami berangkat hingga sampai pada sebuah sungai yang bewarna merah seperti darah, dan ternyata di dalamnya terdapat seorang lelaki yang sedang berenang, namun di sisi sungai terdapat lelaki lain yang telah mengumpulkan banyak batu di dekatnya. Lelaki yang berenang itu menuju ke arahnya, dan apabila telah dekat, dia mengangakan mulutnya, lalu lelaki yang telah mengumpulkan batu itu menjejalkan batu ke dalam mulutnya. Selanjutnya lelaki yang berenang itu pun pergi, lalu kembali padanya, dia mengangakan mulutnya, lalu dijejali lagi dengan batu. Aku bertanya kepada kedua malaikat tersebut : ‘ Siapakah mereka berdua?’
Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita lanjutkan perjalanan kita!’
Maka kami berangkat hingga sampai ke tempat seorang lelaki berpenampilan paling mengerikan yang pernah aku lihat, dan ternyata di hadapannya terdapat api besar yang digiring dan diatur olehnya. Aku bertanya kepada kedua malaikat: ‘Siapakah orang ini?’

Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita lanjutkan perjalanan kita!’

Kami berangkat lagi hingga sampai pada sebuah taman yang penuh dengan pepohonan yang rindang, di dalamnya terdapat aneka ragam bunga-bungaan yang tumbuh pada musim semi. Dan ternyata sebelum kebun itu terdapat seorang lelaki yang postur tubuhnya sangat tinggi hingga aku hampir tidak dapat melihat wajahnya karena menjulang sangat tinggi ke atas. Di sekeliling lelaki itu terdapat banyak anak-anak yang jumlahnya belum pernah sama sekali sebanyak itu. Aku bertanya kepada kedua malaikat; ‘Siapakah mereka?’

Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita lanjutkan perjalanan kita!’

...
Aku bertanya kepada keduanya : ‘Sesungguhnya sejak tadi malam aku telah melihat banyak hal aneh, maka apakah sebenarnya yang telah kulihat itu?’ Keduanya berkata kepadaku : ‘ Sekarang kami akan menceritakan semuanya kepadamu. Adapun lelaki pertama yang tadai kamu lihat kepalanya di timpa batu besar, maka dia adalah seorang lelaki yang telah mempelajari Al Quran namun dia tidak mau mau membacanya dan tidur meninggalkan shalat fardhu. Lelaki kedua yang tadi kamu lihat di robek rahangnya sampai ke tengkuk, lobang hidungnya sampai ke tengkuk, dan lobang matanya sampai ke tengkuk, maka dia adalah seorang lelaki yang pergi di pagi hari dari rumahnya, lalu membual dengan kedustaan setinggi angkasa. Adapun mengenai banyak lelaki dan perempuan yang berada di sebuah tempat mirip tungku apu, sesungguhnya mereka adalah para pezina laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang tadi kamu lihat sedang berenang di sungai, lalu di jejali mulutnya dengan batu, maka dia adalah pemakan riba. Adapun lelaki yang penampilannya sangat mengerikan di dekat api yang di giring dan diaturnya, maka dia adalah Malaikat Malik penjaga neraka jahannam. Adapun mengenai lelaki yang ada di dalam taman, maka dia adalah ibrahim, sedang anak-anak yang ada di sekitarnya adalah setiap anak kecil yang meninggal dunia dalam keadaan fitrah.’...”


Hati ini semakin berdesir dan terenyuh. Ya Allah, apakah hambamu ini termasuk di antara orang yang engkau perlihatkan itu? Aku semakin takut. Aku takut bila sepulang dari sini aku di koyak oleh malaikat izroil dan kemudian di jebloskan ke jahannam. Huft. Aku benar-benar takut. Sementara di depan mataku terlihat seorang mayat yang sedang di kuburkan. Galian lubang itu di injak-injak. Tanahnya pun sudah hampir penuh. Sekarang sudah tak tampak lagi peti yang elok yang tadi baru saja di turunkan dari ambulan. Ya Allah, semoga hambamu ini dapat berkaca dan belajar dari kematian yang aku lihat ini. Semoga hambamu ini termasuk hamba yang engkau kasihi dan telah engkau sediakan satu tempat di surga, baik itu surga yang paling rendah sekalipun. Hatiku terus berharap dan berdoa. Ada embun yang menetes di kalbu. Sementara talqin sedang di bacakan, pikiranku melayang jauh entah kemana.
15:40
Selasa, 13 Juli 2010

0 komentar:

Posting Komentar