web 2.0

Selasa, 20 Juli 2010

Dari Sosokmu Aku Bercermin

Sendiri. Malam ini aku kembali sendiri. Di rumah yang tak besar aku nyalakan sebuah lentera pencerah hati. Bersandar pada dinding tembok berdebu, ku hempaskan rinduku dengan memandangi album-album kenangan yang telah usang.

Aku sedikit tersenyum. Aku mulai sadar. Hm... di sini ramai sekali, aku tak sendirian. Kesendirianku diiringi suara jangkrik bersaut-sautan. Dengung nyamuk pun tak mau kalah. Terkadang mereka hinggap, lalu kembali berkampanye di sekitar telingaku. Bising sekali.. mereka lapar rupanya. Ups.. ada cicak bersuara. Sepertinya dekat, ya sangat dekat. Mereka berteriak teriak seakan mengomandokan pada pasukannya bahwa waktu berburu tiba. Sungguh harmoni alam yang indah. Ya, Aku sadar, bahwa aku tak pernah sendiri. :D

Akh..lagi-lagi ada drakula yang datang. Dia menghisap tengkuku.. Aw...Ah sudahlah, biarkan saja. Hm.. sesaat aku lupa akan kesendirianku. Tapi hanya sesaat,ya sesaat.
Aku dihadapkan kembali pada sebuah kenyataan bahwa sudah dua tahun aku sendiri. Sendiri menghadapi badai dan kejamnya para drakula.

Aku teringat sepuluh tahun silam. Awal mula aku masuk sekolah. Ya, sekolah dasar.

Pagi itu, Bunda bangun lebih awal. Sebelum adzan subuh, bunda sudah bergegas menyiapkan bekal untuk ayah. Memang terlalu dini, tapi itu sudah menjadi rutinitas kami. Seusai subuh Ayah keluar rumah, aku pernah melihat beliau berangkat. Aku melihat beliau mencium bunda. Kecupan perpisahan di kening, kemudian pipi. Tapi beliau teringat sesuatu, ya, teringat aku. Beliau berjalan ke kamarku dan beliau mengecup keningku. Damai sekali rasanya. Aku merasakan kasih sayang ayah. Ayah bekerja di luar kota, seratus lima puluh kilometer adalah jarak yang harus beliau tempuh setiap hari. Jauh banget ya...

Sementara semua telah siap di meja makan, Bunda bergegas membangunkanku. Dengan kasih sayangnya di goyang-goyangkan tanganku, lalu badanku, dan karena tak sabar, tiba-tiba kepalaku.

Kurasakan cubitan sedikit emosi mendarat di pantatku. Ups, beliau tidak sabar, beliau mencubit pipiku. Dengan polos aku menggeliat, berubah posisi menyamping, lalu kembali memejamkan mata. Ya sedikit keterlaluan bila kuingat sekarang, tapi lucu juga, :D

Hm, belum selesai juga perjuangan Bunda. Beliau kembali masuk ke kamarku. Dan oh, ternyata, kali ini dengan muka “sangar” bak pendekar. Beliau masih kukuh membangunkanku. Aku merasakan sedikit aliran listrik. Ya, makin lama makin mengagetkan. Aku merasa tersengat. Aw...Ternyata bunda menyegatku dengan raket nyamuk yang baru di beli kemaren lusa. Huft keterlaluan memang. Aku merasa jengkel dengan bunda bila teringat.

“ Banguuun sayang..ayo bangun. Solat, trus mandiii..hari ini kamu daftar sekolah lho..”

Otomatis aku menangis, karena cara bunda memang keterlaluan. Masa anak sendiri di samain sama nyamuk. Huft.. tapi senyumku melebar waktu kejadian itu teringat :D. Aku merasakan kasih sayang bunda. Beliau memelukku lalu berusaha meredakan tangisku. Tapi badanku tersentak, beliau mendorong seraya kaget.

“ Sayang..!!! Kamu ngompol lagi? Aduh...ayo cepetan mandi..!!! “.

Aku tertawa, dulu aku memang jagoan ngompol. Ya, aku polos itu dulu memang hobi ngompol.

Pukul tujuh kurang sedikit aku sudah siap. Memakai kemeja terbaik dan tas robocop membuat aku merasa jadi cowok paling ganteng sedunia (hueeek, Ups..maklum masih kecil). Dalam hati aku berkata,”Aku siaaap sekolah bundaaa”.

Saat yang sama bunda masih sibuk menyalakan motor BMW-ku (bebek merah warnanya, itu sebutan buat motor bebek bututku, biar keren aja ) . Sudah lebih dari sepuluh menit tapi motor butut itu belum juga menyala. Bunda masih berusaha, terkadang beliau berhenti sejenak untuk mengusap keringat yang mulai menetes. Bunda bekerja keras, aku mulai tak tega. Memang hanya motor tua itu yang kami punya saat itu. Bunda sendiri tak pernah mengeluh pada ayah, walau motor itu sering mogok sekalipun. Bunda menerima apa adanya.

Back to story, Bunda terus bekerja keras, beliau tidak mau melihat anaknya gagal dalam pendaftaran sekolah favorit di kota kami ini. Beliau terus berusaha.
Ya ya ya, Bunda nampak putus asa. Aku pun begitu. Aku merasa aku adalah anak paling malang di dunia . Yah mungkin ini memang belum waktunya aku mengeyam sekolah. Mungkin baru tahun depan. Huftt, aku bersandar pada sepeda tua milik kakek. Bunda menatapku sambil tersenyum gembira. Aku masih saja murung. Dengan semangat bunda menghampiriku. Oh bukan, ternyata menghampiri sepeda tua milik kakek.

“ Sayangg..Ayo naikk..kita sudah hampir terlambat.”

Senyum bunda mengembang tanda munculnya secercah harapan. Aku pun ikut tersenyum. Dan dengan semangat aku naik di bocengan belakang. Ku dekap pinggang bunda erat-erat. Cihuiii...teriaku dalam hati. Maha GO!!! Maha GO!!!

Sepeda Unta itu pun melaju. Aku tetap berpegangan. Ups ... Klotak klotak.. begitulah bunyinya. Sepeda ini memang sudah tua, jadi baut yang terpasang pun sudah tidak kencang lagi. Semangat Bunda benar-benar membara. Dengan sekuat tenaga beliau terus memacu sepedanya. Kecepatan pun semakin bertambah. Peganganku jadi makin erat. Aku sedikit terkejut, Bunda menyalip sepeda motor HONDA, wow.. Wow lagi, Bunda menyalip delman kali ini, mobil pick up juga tersalip. Aku mulai kagum pada bundaku. Ternyata bunda hebat. Wah... .

* * *

Jam tujuh dua puluh delapan menit aku tiba di sekolah. Terlihat antrian yang sangat panjang. Kemudian kami terjun ke arena peraduan nasib itu. Kami memegang nomor 239, dan kami lah pendaftar terakhir. Aku benar-benar bersyukur. Bersyukur karena aku punya Bunda yang hebat.

* * *

Dari sanalah aku bercermin. Aku bercermin pada diri bunda. Bunda yang terus semangat tak pernah putus asa. Bunda yang gigih. Bunda yang penyayang dan Bunda yang berjuang demi masa depanku. Ya, masa depan anak bungsunya,

Beliaulah orang yang paling aku sayangi. I Love You Bunda.

Selesai

Tanpa edit
11 Juli 2010

0 komentar:

Posting Komentar