
Aku ingin mengeluh. Karena sekarang jaket kuningku sudah mulai lusuh. Ada bercak keringat yang tidak bisa hilang karena terlalu lama dipakai, coretan spidol di lengan tangan kiri sepanjang 30-40 cm yang tidak bisa hilang. Bahkan, Kancing makara telah berulang kali copot higga sekarang hanya aku simpan di lemari agar tidak hilang. Lecek, karena sering dipakai. Warna kuningnya yang nampak lusuh tidak seperti baru lagi. Di bagian belakangnya, ada bintik-bintik hitam yang tidak bisa hilang.
Aku juga ingin mengeluh. Slayer pertamaku di kampus ini, sekarang pun ikut pudar. Tulisan IM FKM UI yang berwarna kuning itu, sudah tidak jelas. Ada bekas tinta di salah satu ujungnya. Bordirannya juga ada beberapa yang sobek.
Kapan aku dapatkan kembali, jaket kuning baru yang masih bersih dan berkilau?
Kapan aku dapatkan kembali slayer ungu yang dulu aku anggap hanya slayer-slayer biasa?
Tidak, tidak akan! Tidak akan ku dapatkan kembali seragam kebanggaan yang anti peluru itu. Tidak akan aku dapatkan lagi, jaket kebanggan yang anti macet, anti culik, anti satpam, dan anti-anti yang lain. Tidak akan aku dapatkan kembali pula, slayer identitas FKM ini. Slayer yang membuatku dikenal masyarakat saat penyuluhan sebelum aku mengatakan dari fakultas mana. Slayer yang memudahkanku ditemukan, saat pertama kali aksi di depan DPR, slayer yang trus bersamaku saat melewati masa-masa Orientasi Kehidupan Kampus, slayer yang juga menemaniku memasukkan miniature rumah sakit rakyat ke ruang siding DPR, dan tentunya slayer yang terus menghiasi jaket kuningku dimanapun dia berada.
Sebuah hal yang sepele memang, hanya sebuah jaket dan slayer yang mungkin harganya tak seberapa. Tapi ternyata kedua benda sederhana ini mengantarkanku pada sebuah arti kebanggaan. Kebanggaan akan identitas sebagai mahasiswa FKM UI.
Kepada adik-adiku, mahasiswa baru:
Apakah ada yang salah jika kita menganggap slayer sebagai suatu yang sakral?
Slayer ini akan menemani kita empat tahun kelak.
Apakah salah jika sejak awal kita mulai menghargai dan mencintai almamater kita sebagai mahasiswa FKM UI?
Sepele caranya, kita jaga slayer itu baik-baik layaknya menjaga nyawa. Mungkin terdengar konyol. Tetapi sungguh, aku telah merasakan, bahwa jaket kuning dan slayer ungu merupakan suatu yang berharga.
“The meaning” sebuah arti yang harus kita resapi sendiri. Kita ciptakan pikiran-pikiran positif tanpa mengesampingkan intelektualitas. Inilah arti dari sebuah Jaket Kuning dan Slayer Ungu. Seragam kebanggaan anak FKM UI saat dia mengabdi untuk Indonesia.


