web 2.0

Rabu, 11 Agustus 2010

Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan


Arti dewasa memang rancu sampai sekarang. Nah, saya akan sedikit berkomentar tentang tema ini. Ya, sesuai yang di celutukkan salah satu teman dari Jakarta saat diskusi kemarin. Tua itu pasti, Dewasa itu pilihan.
Pada setuju ga nih?

Oke, klo dari pihak saya, saya sangat amat setuju. Saya akan menentang jika ada orang ‘bodoh’ yang mengatakan bahwa kita dianggap dewasa setelah ulang tahun ke-17. Ah… doktrin apa ini. Seharusnya ini semua di ubah. Dewasa sendiri tidak ada sangkut pautnya dengan umur ataupun factor biologis. Dewasa sendiri adalah cenderung pada psikis seseorang.

Nah Pernah ada suatu cerita, Kakak kelas ekonomi yang di wisuda bersama kakak tingkat yang terpaut 3 tahun, dia mencatat rekor lulus tercepat di Universitas Indonesia, ya, pada umurnya yang ke 19 lebih sedikit dia sudah lulus. Total pendidikan hanya 2 tahun delapan bulan. Lalu coba kita bandingkan dengan seorang mahasiswa lagi yang jauh di atasnya namun sampai over limit kelulusan dia belum juga lulus. Dari sudut pandang ini, manakah yang akan anda pikir paling dewasa??

???

Nah, klo dari kalian akan menjawab atau berpikir salah satu dari mereka adalah salah satu yang dewasa maka anda belum bisa dianggap dewasa teman ( maaf ya.. :D). Kenapa? Kepintaran akademis bukan suatu ukuran kedewasaan teman. Lalu apa sebenarnya dewasa? Dewasa menurut saya pribadi adalah dewasa dalam berpikir dan mandiri. Berpikir dewasa di sini adalah bisa bersikap sesuai dengan masalah yang dia hadapi, tidak gampang menyerah, dan bijaksana dalam bersikap. Lalu mandiri adalah mampu mengkoordinir dirinya sendiri untuk menjalankan hidup. Intinya tidak bergantung pada orang lain, tapi dalam konteks tertentu teman…Ah terlalu ribet yah klo bicara definisi, kita lanjut aja ya…

Nah ada lagi nih cerita (smoga ga bosen dengan crita saya),

Saat itu ada penerimaan Maba UI, biasa nih, pada saat-saat seperti ini kakak yang ‘mengospek’ adik-adiknya tentu akan mencari ladang subur untuk di kerjain. Eh, ternyata, setelah selidik punya selidik setelah marah pada suatu Maba (mahasiswa baru), si panitia itu ‘kikuk’ saat berusaha menyalahkan. Si maba bilang, “kak… bukankah di UI kita dididik bahwa putih adalah putih dan hitam dalah hitam? Lalu saya lihat kenapa dari tadi kakak berusaha memojokkan saya dengan apa yang saya tidak lakukan? Klo saya memang salah, coba beri saya buktinya…”

Nah Lho, ini sering terjadi nih, kakak kelas yang sering mencari-cari kesalahan adik tingkatnya, tapi tidak setiap adik tingkat yang berani menentang seperti dia. Maka klo dari konteks di atas si panitia itu pasti akan menjawab,

” Jadi kamu merasa paling benar nih?” (maklum pengalaman pribadi :D)

“Tidak kak, yang paling benar adalah Tuhan, dan segala letak kesalahan ada pada saya. Tapi selama saya mengikuti acara ini saya tidak merasa melakukan satu kesalahan pun.”

Krik krik krik…

Si panitia rese itu pun tak tau apa yang harus dia jawab.Bisa dipastikan dia tidak akan berani lagi menunjukkan muka nya di depan adik tingkatnya itu. Nah, Lalu menurut anda siapa yang sudah dewasa? Apakah si adik tingkat itu atau kakak tingkatnya? :D

Kadang seorang yang lebih tua dari kita pun sering melakukan hal yang masih kekanank kanakan. Bahkan orang tua kita sendiri pun terkadang juga begitu. Anda tidak percaya? Coba saja di buktikan teman… :D

Yang jelas, don’t look someone just from the cover. Oke?? Karena di kehidupan ini cover selalu saja menipu. BIsa saja anda sekarang masih anak-anak dan ternyata malah adik anda yang sudah dewasa. Nah lho?? :D

Baik jadi buanglah jauh-jauh doktrin dari televise ataupun dari lingkungan anda yang mengatakan bahwa dewasa itu di ukur dari biologis saja (umur 17th), menurut saya dewasa itu sebuah pilihan dan tua itu pasti. Lho? Kebalik ding,

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
Semoga bermanfaat untuk berpikir dan bertanya pada diri sendiri tentang kedewasaan.

Nb : semua itu adalah opini saya pribadi. Jadi mohon maaf jika ada dari para pembaca yang tidak setuju. Afwan, syukron

Selasa, 10 Agustus 2010

Gejolak Hati Sang Idealis



Di suatu ruangan yang penuh hiruk pikuk suara, hati Raghib bergetar. Ya, hatinya seakan berontak. Dia tidak bisa menerima apa yang di teriakkan senior-senior itu.

“ Kita ini adalah generasi penerus, kita harus berjuang guna meneruskan pahlawan-pahlawan kita yang telah gugur…bla blab la…”

Dia tak setuju bila dirinya disebut menjadi generasi penerus.Suara-suara itu membuat telinganya semakin gatal saja. Apa yang harus di teruskan dari bangsa yang sudah rusak ini. Bangsa yang memiliki sejuta kebiasaan yang tak lazim. Jam karet lah, korupsi lah, kolusi lah, pencurian, video mesum. Ah… Bagi dirinya hal itu sudah cukup banyak menjadi bukti bahwa kita tidak perlu lagi meneruskan Negara ini. Dia ingin segera pindah dari Negara yang serba lebih ini. Ya, memang Negara ini lebih dalam segala hal, lebih penduduk, lebih SDM, lebih SDA, lebih buruk, lebih utang, dan lebih-lebih lainnya. Tiba-tiba lamunannya terputus.

“hei kamu cecunguk, ngapain kamu melamun? Dasar pemuda tak punya semangat.”

“hmm..”

Raghib hanya menunduk dan mngumpat dalam hati. Ah, menyebalkan sekali.
Senior-senior it terus memaki-maki Raghib. Mereka seakan menemukan mangsa empuk. Dari suara yang tadi hanya satu dalam skejap berubah menjadi kicauan yang tak henti-hentinya. Tapi Raghib bergeming sampai acara Orientasi Mahasiswa Baru itu selesai.
Di perjalanan pulang dia trus berpikir. Sebenarnya apa yang harus di harapkan dari Negara ini jika yang terjadi tiap hari adalah masalah demi masalah. Ah, saya sudah capek memikirkan solusi. Jika tak ada praktek semua akan sama saja. Dalam lamunannya yang semakin tenggelam, dia teringat kata-kata yang sangat mengena dari So Hok GIe

“Di Indonesia hanya ada 2 pilihan: menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas-batas sejauh-jauhnya.”
(Soe Hok Gie, dalam Catatan Seorang Demonstran)


Ya benar, kalau kita tidak berbuat sesuatu maka siapa lagi yang akan bergerak dan merubah negeri ini? Toh, perubahan akan muncul dari seorang yang memilki idealism tinggi. Kita lihat saja bung Karno, dia memiliki semangat besar untuk memerdekakan Indonesia, di mana pada jamannya hanya ada sebagian orang yang berpikir sama. Tapi dengan tekad akhirnya dia dan kawan-kawan bisa berbuat hal yang luar biasa.

Raghib kembali sadar. Sekarang semangatnya menjadi menggebu-gebu. Ya, dia bertekad untuk membuat Indonesia menjadi Negara yang sesungguhnya, Negara yang aman, tertib, dan maju tentunya. Maka semua itu harus dimulai dari sekarang.Semua harus di mulai dengan menghapus kebisan dan adat yang buruk semisal jam karet dan kawn-kawannya itu. MAka Mulai saat itu semangatnnya mencuat. Dan dalam satu semester akhirnya untuk langkah awal menjadi seorang pemimpin dan pendobrak dia berhasil mengubah tradisi BEM fakultas yang dia ketuai sendiri.

Mulai detik itu Raghib akan terus berjuang demi merubah Indonesia, Lalu kita sendiri?kapan kita mau bergerak dari tempat kita bersandar sekarang??

Generasi kita adalah generasi Pembaharu dan generasi pendobrak bukan generasi penerus.Semangat !!!