web 2.0

Selasa, 20 Juli 2010

Doaku Tak Diterima

Suara Hati

Haris masih saja termenung. Dia merasa jauh dengan Allah. Dia seakan kehilangan cahaya kedamaian yang baru saja dia renggut. Dia baru saja merasa dekat dengan Allah. Dia baru saja merengguk manisnya iman, dan dia baru saja keluar dari neraka, neraka yang selama ini telah memenjarakan dirinya. Allah telah berbaik hati menarik dirinya keluar dari pintu kemaksiatan. Tapi kini berbeda. Jiwanya kering kerontang, dia kehilangan semuanya. Setelah hijrah beberapa waktu lalu, dia merasa sendirian. Dia merasa bahwa Allah telah pergi jauh meninggallkannya. Tidak ada lagi payung yang meneduhkan jiwa seperti sedia kala.

“Apa yang terjadi, kenapa hatiku tak tenang, kenapa langkahku selalu saja berat, kenapa mataku tak bisa terlelap.” Sekarang dia benar-benar jauh. Jauh sekali dengan-Nya. Iman yang selama ini bersemi mulai berguguran dan sekarang seakan gundul di tengah kemarau yang panjang.

Lingkungannya sekarang telah membuat dirinya jauh, jauh sekali dengan Allah. Doa-doanya pun seakan tak berbalas. Dia sering mengeluh, dia mengolok-olok Allah. Dia sering kesal, baik pada dirinya sendiri ataupun merembet pada apa yang dia lihat. Dia merasa bahwa Allah sudah tidak sayang lagi padanya. Doa yang trus ia panjatkan pun tidak pernah berbalas, bahkan di hatinya pun tidak ada ketenangan.

Dia kembali termenung. Tiba-tiba matanya terbelalak. Dia tidak bisa mengelakkan pandangannya dari buku yang dia pangku. Hatinya mulai merintih.

“Doa kalian tak akan dikabulkan karena hati kalian telah mati oleh 10 hal:
Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya.
Ke-dua, kalian mengaku cinta Rasulullah SAW tetapi meninggalkan sunnahnya.
Ke-tiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya.
Ke-empat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya. ...”


Haris berhenti membaca sejenak. Dia menghela nafas, seraya mengelus dadanya. Kalimat-kalimat itu seakan semua yang terjadi pada dirinya. Dirinya yang terombang-ambing karena berada di lingkungan yang penuh maksiat. Dia kembali berusaha mengarahkan matanya pada buku itu. Bibirnya kembali bergetar.

“Ke-lima, kalian mengatakan bahwa syaithan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya.
Ke-enam, kalian katakan bahwa surga itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya.”


Haris berdiam diri sejenak. Bahkan hampir semua itu dia lakukan. Tapi kenapa dulu doanya di kabulkan Allah. Dia pernah berdoa agar mendapatkan nilai baik. Juga pernah berdoa agar dia bisa masuk ke universitas yang dia inginkan. Dan banyak lagi doa-doa yang dia panjatkan. Tapi kenapa semua itu terkabul? Apakah hanya keberuntungan. Atau apa. Dia memenuhi otaknya dengan berbagai pertanyaan.

Tapi pertanyaan itu seakan hilang, lenyap, ketika dia mengingat dosa-dosa yang sudah ia lakukan. Sambil terisak dia meneruskan membaca.

“Ke-tujuh, kalian katakan bahwa neraka itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya.
Ke-delapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya.
Ke-sembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri.
Ke-sepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka.”1

Dirinya seakan sadar. Dari kesepuluh hal yang di paparkan, hampir semuanya mencerminkan dirinya. Rasa kesal mucul begitu saja. Air mata pun mengalir deras. Selama ini dirinya telah lupa pada perintah Allah. Dia hanya menuntut, menuntut kepada Allah atas segala yang dia inginkan. Dia semakin takut karena selama ini Allah tidak kembali mengulurkan hidayahnya untuk kembali ke jalan yang benar. Sampai tiba saat ini. Dia mencaci maki dirinya sendiri. Dia benar-benar merasa sangat berdosa. Tangisannya semakin deras. Buku itu pun terkena beberapa tetes air mata penyesalan. Haris langsung bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Kini dia sadar bahwa apapun yang dia lakukan harus kembali berpijak di atas al-quran dan sunnah.

katagori : cerpen


1 Mi’ah Qishshah Wa Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin karya Muhammad Amin al-Jundi, Juz.II, hal.94)

0 komentar:

Posting Komentar