
Saya terus tersenyum di teras rumah sambil memandangi beberapa ikan berkejar-kejaran. Pikiran ini kembali membuka memori . Dan kemudian berujung pada sebuah ingatan yang menggelikan. Terlintas diri ini baru saja lahir. Lucu sekali rasanya. Masa itu adalah masa nya kita di sayang semua orang, lalu menjadi idola tiba-tiba, dan setiap orang yang melihat kita tentu akan berkata,
" Ih lucunya... sini Om gendong."
Atau
" Ih lucu banget....udah pinter ngompol ni yee." (harusnya “Ih lucu banget… udah pinter ngomong ni yee’)
atau begini juga
" imutnya... jadi pengen punya anak lagi." Kata nenek-nenek yang sudah berumur 60 tahun sambil mengerlingkan mata pada sang kakek. :D .
Yang jelas masa itu sangat menyenangkan. Hati merasa damai, dan tentunya kita di sayang luar biasa. Hidup kita terjamin. Belum terjamah dosa dan yang paling mengasyikkan kita menjadi idaman para om-om dan tante-tante kita yang sering membuat kita mewek itu. Sungguh menyenangkan bila teringat.
Balita mungkin adalah masa hidup yang paling damai dalam hidup kita. Kita tentu tidak pernah kena ocehan mama papa. Sewaktu kita menangis pun begitu. Tangan lembut itu langsung membelai, memeluk, kemudian mendiamkan kita. Kalau kita bertingkah pun tidak pernah di salahkan. (ya iyalah namanya juga bayi). Tidak jarang orang di sekitar kita pun jadi kambing hitam saat tiba-tiba kita menangis. Contohnya :
“Huaaaaaa….oek..oek..” si dedek menangis tiba-tiba
“Aduh sayang… sini-sini, jangan nangis ya… cup..cup..cup. “Ibu berteriak sambil meraih badan si dedek
“Kakak ini adeknya habis di apain? Kok tiba-tiba nangis?”
“Enggak ko Ma, ga tak apa-apain.”
“Masa? Ini buktinya adeknya nangis.” Penuh rasa tidak percaya
“Iya beneran Ma.”
“Dah jangan nakal lagi sama adeknya, ntar mama ciwel lho. Uang jajannya juga mama potong.” Dengan cuek membiarkan si kecil trus menangis dan ngeloyor pergi. Padahal yang bener ‘Dengan cuek membawa si kecil ke tempat lain’. (kejam banget ya? )
“ … “ suasana langsung hening. Si kakak confused
Faktanya : Ternyata si kakak tidak salah, tapi si adek menangis karena saat dia menengadah melihat langit-langit tak sengaja dia kejatuhan kotoran cicak. Terus ketelen deh. Jijik ya. Hii….
Tapi lucunya sewaktu kita kecil kita ingin cepat-cepat dewasa. Eh… sekarang malah pengen jadi anak kecil lagi. Capek deh…
Ingatkah kalian? Sewaktu kecil kita sering berucap hal-hal aneh. Ya, usaha kita untuk menirukan ocehan ocehan om-om dan tante-tante kita itu malah terdengar aneh. Dan biasanya mereka membutuhkan waktu untuk mentransfer bahasa kita (bahasa bayi) ke dalam bahasa manusia. Lucu-lucu pula ungkapan itu. Saya jadi teringat dengan cerita teman saya tentang adeknya.
“ Cacik… cacik..”, Celoteh si dedek.
“….” Kakak nya kebingungan mendengar celotehan adeknya itu. Dia melihat sekitar. Ternyata hening.
“Cacik… iu cacik mba.”
“…” tak bisa berkata-kata
Sepuluh menit kemudian si kakak sadar, “Oh, maksut kamu cicak… iya itu ada cicak.” Terang si kakak dengan muka blo’on.
Haahahaha aneh bukan? (berusaha tertawa walaupun sebenarnya garing). Begitulah tingkah is dedek, masih lucu walaupun kadang dongo. (maklum lah, namanya juga bayi).
Hm… Tapi Balita (bayi) itu mesti di contoh.
Si mahluk kecil itu ternyata tidak pernah putus semangat. Setiap dia terjatuh saat mencoba berjalan dia kembali lagi bangun (walaupun di iringi tangis) tapi dia tidak pernah takut untuk mencobanya lagi. Masa kita kalah dengan Balita (bayi). Suatu masalah yang berat itu ada solusinya kawan. Jadi jangan gampang menyerah. Kan malu sama Balita (bayi).
Yah, begitulah si adek kecil. Begitu banyak pelajaran beharga yang bisa kita ambil dari si dedek itu. Yang penting kita harus tetap semangat. Suatu kegagalan jangan menjadikan kita loyo kawan.
Masa kalah si sama si dedek.
Semangat !!!!!!!
(terinspirasi dari seseorang yang selalu ku rindukan dan sebuah buku konyol, jadi maklum klo ikut-ikutan sok konyol)
Teras, 24 July 2010
