web 2.0

Sabtu, 24 Juli 2010

Meneropong Si Dedek Yuuk…



Saya terus tersenyum di teras rumah sambil memandangi beberapa ikan berkejar-kejaran. Pikiran ini kembali membuka memori . Dan kemudian berujung pada sebuah ingatan yang menggelikan. Terlintas diri ini baru saja lahir. Lucu sekali rasanya. Masa itu adalah masa nya kita di sayang semua orang, lalu menjadi idola tiba-tiba, dan setiap orang yang melihat kita tentu akan berkata,

" Ih lucunya... sini Om gendong."

Atau

" Ih lucu banget....udah pinter ngompol ni yee." (harusnya “Ih lucu banget… udah pinter ngomong ni yee’)

atau begini juga

" imutnya... jadi pengen punya anak lagi." Kata nenek-nenek yang sudah berumur 60 tahun sambil mengerlingkan mata pada sang kakek. :D .

Yang jelas masa itu sangat menyenangkan. Hati merasa damai, dan tentunya kita di sayang luar biasa. Hidup kita terjamin. Belum terjamah dosa dan yang paling mengasyikkan kita menjadi idaman para om-om dan tante-tante kita yang sering membuat kita mewek itu. Sungguh menyenangkan bila teringat.

Balita mungkin adalah masa hidup yang paling damai dalam hidup kita. Kita tentu tidak pernah kena ocehan mama papa. Sewaktu kita menangis pun begitu. Tangan lembut itu langsung membelai, memeluk, kemudian mendiamkan kita. Kalau kita bertingkah pun tidak pernah di salahkan. (ya iyalah namanya juga bayi). Tidak jarang orang di sekitar kita pun jadi kambing hitam saat tiba-tiba kita menangis. Contohnya :

“Huaaaaaa….oek..oek..” si dedek menangis tiba-tiba
“Aduh sayang… sini-sini, jangan nangis ya… cup..cup..cup. “Ibu berteriak sambil meraih badan si dedek
“Kakak ini adeknya habis di apain? Kok tiba-tiba nangis?”
“Enggak ko Ma, ga tak apa-apain.”
“Masa? Ini buktinya adeknya nangis.” Penuh rasa tidak percaya
“Iya beneran Ma.”
“Dah jangan nakal lagi sama adeknya, ntar mama ciwel lho. Uang jajannya juga mama potong.” Dengan cuek membiarkan si kecil trus menangis dan ngeloyor pergi. Padahal yang bener ‘Dengan cuek membawa si kecil ke tempat lain’. (kejam banget ya?  )
“ … “ suasana langsung hening. Si kakak confused

Faktanya : Ternyata si kakak tidak salah, tapi si adek menangis karena saat dia menengadah melihat langit-langit tak sengaja dia kejatuhan kotoran cicak. Terus ketelen deh. Jijik ya. Hii….

Tapi lucunya sewaktu kita kecil kita ingin cepat-cepat dewasa. Eh… sekarang malah pengen jadi anak kecil lagi. Capek deh…

Ingatkah kalian? Sewaktu kecil kita sering berucap hal-hal aneh. Ya, usaha kita untuk menirukan ocehan ocehan om-om dan tante-tante kita itu malah terdengar aneh. Dan biasanya mereka membutuhkan waktu untuk mentransfer bahasa kita (bahasa bayi) ke dalam bahasa manusia. Lucu-lucu pula ungkapan itu. Saya jadi teringat dengan cerita teman saya tentang adeknya.

“ Cacik… cacik..”, Celoteh si dedek.
“….” Kakak nya kebingungan mendengar celotehan adeknya itu. Dia melihat sekitar. Ternyata hening.
“Cacik… iu cacik mba.”
“…” tak bisa berkata-kata

Sepuluh menit kemudian si kakak sadar, “Oh, maksut kamu cicak… iya itu ada cicak.” Terang si kakak dengan muka blo’on.

Haahahaha aneh bukan? (berusaha tertawa walaupun sebenarnya garing). Begitulah tingkah is dedek, masih lucu walaupun kadang dongo. (maklum lah, namanya juga bayi).

Hm… Tapi Balita (bayi) itu mesti di contoh.

Si mahluk kecil itu ternyata tidak pernah putus semangat. Setiap dia terjatuh saat mencoba berjalan dia kembali lagi bangun (walaupun di iringi tangis) tapi dia tidak pernah takut untuk mencobanya lagi. Masa kita kalah dengan Balita (bayi). Suatu masalah yang berat itu ada solusinya kawan. Jadi jangan gampang menyerah. Kan malu sama Balita (bayi).

Yah, begitulah si adek kecil. Begitu banyak pelajaran beharga yang bisa kita ambil dari si dedek itu. Yang penting kita harus tetap semangat. Suatu kegagalan jangan menjadikan kita loyo kawan.

Masa kalah si sama si dedek.
Semangat !!!!!!!


(terinspirasi dari seseorang yang selalu ku rindukan dan sebuah buku konyol, jadi maklum klo ikut-ikutan sok konyol)

Teras, 24 July 2010

Jumat, 23 Juli 2010

Hiruk Pikuk Saat Matahari Mulai Mengintip

Pagi ini matahari bersinar dengan cerah. Saya melangkahkan kaki keluar rumah. Cahaya matahari yang berkilat menyambut menyilaukan mata. Bayangan saya masih terlihat pendek. Itu menunjukkan ini baru jam enam pagi. Saya berdiri di bahu jalan menunggu bus Bekasi - Kp. Rambutan menjemput. Yach, walaupun masih pagi seperti ini, orang-orang sudah sibuk dengan rutinitas masing-masing. Terutama orang kantoran. Waktu seperti ini adalah waktu yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak, jalanan macet sekali. Hampir semua mobil yang akan memasuki gerbang tol berjalan sangat lambat. Atau mungkin nyaris berhenti. Kemacetan luar biasa memang paling sering terjadi saat jam berangkat kerja dan pulang kerja. Seperti saat ini. Kadang para kerah putih sering di buat jengkel oleh para pengendara motor yang se enaknya. Dari balik kaca mobil itu memang terlihat jelas mimik mereka. Dengan muka merah padam mereka berlomba-lomba bermain klakson. Hm… Saya juga ikut jengkel. Suara bising membuat saya tidak nyaman. Belum lagi semakin banyak kendaraan yang berlalu lalang menyebabkan saya tidak lagi bisa menghirup udara segar. Huh.

Silahkan anda membuat ricuh di jalanan, tapi tolong anda buat saja jalan anda sendiri. Huft.


Ya, seharusnya pagi hari adalah waktu di mana kita bisa merasakan bersihnya udara. Ah… tapi apa kenyataannya, di kota metro seperti ini, hal itu akan sulit sekali di raih. Kecuali jika kita membuat hutan pribadi di pekarangan rumah. Tapi rumah-rumah disini kan tidak ada pekarangannya. Kecuali di kawasan elite yang harga satuannya pun mencapai milliaran.

Huft… Saya mulai tidak suka dengan lingkungan ini. Semua orang sibuk bekerja. Saya mulai membayangkan bagaimana bila esok saya akan menjadi bagian dari mereka semua yang menyebalkan ini. Mereka yang egois demi kepentingan mereka masing-masing. Mereka yang membuat senyuman matahari pagi ini menjadi tidak indah lagi.

Ah… saya akan menyesal bila ternyata nanti saya termasuk menjadi bagian mereka. Saya menjadi salah seorang penyebab polusi di kota yang menurut saya sudah kumuh ini.
Flat… Pikiran saya tiba-tiba flat. Saya masih tetap terdiam menunggu bus itu menjemput…

Kamis, 22 Juli 2010

Kenapa Harus Ladang Tinta?

Kenapa Ladang tinta? Hm, Ya kenapa saya memilih nama Ladang Tinta. Sebenarnya alasannya sederhana. Sangat sederhana. Semuanya adalah karena saya BINGUNG. Bingung harus memakai nama apa. Pikiran saya flat. Yang muncul malah nama-nama aneh untuk header saya itu.Misanya ahansa’s diary. Saya pikir nama itu terlalu lugu (maaf bukan maksud untuk memandang rendah anda yang memakai nama itu. Hanya saya kurang suka saja. Sekali lagi maaf. :D ). Dan tentunya nama itu sudah terlalu banyak digunakan. Lalu saya terpikir satu nama lagi. My note. Tambah aneh saja. Terlalu umum bagi saya. Saya malah merasa diri ini semakin garing ( krupuk dunk garing). Hm, Tak sengaja saya teringat blog seseorang. Di sana dia menggunakan nama Ladang jiwa, lalu Ladang ilalang. Sungguh indah menurut saya. Arti nama yang dia jelaskan pun mempunyai arti filasofis yang tinggi. Saya jadi iri. Tapi tenang. Tiba-tiba dipikiran saya terlintas sebuah nama. LadangKu. Yah, Ladangku. Ah… Tapi saya berpikir lagi. Bagaimana nanti kalau blog ini dikunjungi para pecinta tanaman? Saya tertawa dalam hati. Aduh-aduh untuk mencari nama yang pas saja sesusah ini. Saya kembali mengurungkan nama LadangKu itu. Sekian lama pikiran saya semakkin FLAT.

Tiba-tiba eh tiba-tiba, satu detik kemudian, setelah memandangi laptop sambil memutar-mutar pulpen, pikiran saya menemukan cahaya yang cerah ( cieee...cieee). Ya, Ladang Tinta. Bagus-bagus. Kata itu muncul begitu saja. Saya kembali terseyum. Sedikit memiliki filasofis. Tulisan itu kan identik dengan tinta, iya ga? Oke saya jwab sendiri. “iya”. :D

Apa artinya?

Okey, stiap nama harus memilki arti. Bahkan nama yang paling pendek sekalipun. Seperti Nur. Itu artinya cahaya. Benar-benar beruntung orang yang bernama Nur. Orang tuanya pasti berharap dia menjadi cahaya di manapun dia berada. Ups, Out to topic deh. Hm..Apa arti nama Ladang Tinta? Saya juga tidak tahu. Nama itu terlintas begitu saja. Akhirnya saya tulisakan sekenanya saja di sini. (malu kan kalo nama ga ada artinya… :D ). Ladang tinta artinya adalah ladang yang penuh tinta. Lhuw??? Iya, ladang tinta adalah media bagi saya untuk mengelola tulisan-tulisan saya yang tercecer agar tidak hilang. Saya menggembala tulisan saya di sini. Ya, ini adalah tempat untuk memindahkan tulisan-tulisan saya dari tissue, kertas kwitansi, binder, dan kertas-kertas yang tidak layak lainnya ke dalam sebuah tempat yang lebih baik dan tentunya abadi. Yah…di blog ini. Tulisan-tulisan ini adalah semua uneg-uneg saya yang sedikit saya kembangkan menjadi lebih panjang. Dan tentunya membuat Anda malas membaca. Hm, semoga tidak. Di mana pun hanya pulpenlah yang setia menemani saya. Susahkan kalo harus membawa laptop kemana-mana. Tinta lah yang memberi perubahan besar bagi hidup saya (sudah mulai pretensius). Ya pulpen sangat berjasa. Maka saya berusaha untuk membuatkan ladang baginya. Agar tidak punah dan dapat berkembang biak. Lhuw??

Ya, pokonya begitulah. Semakin lama di jelaskan saya akan semakin ngelantur.

Oke, sama seperti di awal tadi, ladang tinta adalah ladang untuk tinta. Lhuw? Yah, ladang untuk tinta saya yang tercecer.

Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi.


On the bus,
20 July 2010

Selasa, 20 Juli 2010

Hari Duka

Hari Duka

Siang ini aku sedang asyik bermain game. Yach game tentang pembunuhan. Judulnya Plants vs zombie. Aku di haruskan membunuh para zombie dengan tanaman yang disediakan. Seperti the age of empire, aku harus membangun benteng pertahanan dan pasukan untuk menyerang. Yang paling aku suka adalah saat kepala zombie berjatuhan karena terkena corn attack ( apa itu corn attack?). Hm.. aku sampai lupa waktu. Tidak terasa adzan dzuhur sudah berkumandang. Game ku pause, dan segera kuambil wudlu. Tapi setelah itu aku maen game lagi. Huft... game yang membuat aku ketagihan. Solat dzuhur di masjid pun terlewatkan. Hm.. telpon berdering,

“Innalillahi wa inna illaihi ro’jiun.”

Kata-kata itu spontan terucap saat kabar duka aku terima. Eyang putri yang di semarang telah tiada dua jam lalu. Tentunya saat aku sedang membantai para zombie. Aku tidak menyangka saat itu eyang putri juga telah di bantai oleh malaikat izroil. T-T

Ba’da dzuhur aku dan mbak pinpon (panggilan akrab untuk kakakku yang lucu :D )menuju pemakaman Mojopitu. Ya, eyang memang akan di makamkan di Pati. Lama juga, aku sudah menunggu setengah jam, tapi jenazah belum juga datang. Suasana yang membosankan membuatku menjadi lebih bosan lagi ketika mendengar ocehan tanteku. Huufffft... cerewet sekali. Mbak pinpon yang di ajak ngobrol hanya mengangguk-angguk saja seperti Ayam. Pemandangan yang tidak ku harapkan. Tapi mau gimana lagi, di sepanjang mata memandang, hanya terlihat makam, makam, dan makam. Ya tidak ada jalan lain lagi, selain ikut terlarut dalam ocehan tanteku, dan aku akhirnya mengikuti tingkah kakaku yang daritadi mengangguk-angguk seperti ayam. Kik kuk kik kuk. Huftt.. aneh.

Dari Utara, mobil jenazah pun datang. Terlihat mobil-mobil pengantar mengekor di belakangnya. Aku merasa asing. Di sana sini terpampang muka saudara-saudara yang tidak aku kenal. Setiap kali di sapa aku hanya tersenyum. Maklum, di keluargaku hubungan seduluran antar buyut masih saja kuat. Tapi bagiku yang bisa di bilang ‘cit-cit’ nya ini, sering merasa asing bila berkumpul. Jelas saja, saudara yang jumlahnya lebih dari lima puluh orang hanya bertemu sekali dalam setahun. Itu pun tidak pasti. Ah...capek bila harus menghafal semuanya. Buku silsilah keluarga saja ada dua puluh lembar folio, yang isinya cuma nama-nama aja. Capek deh. Kaya ngapalin biologi aja. Sujono nama genus, muslim nama spesies. Aduh... capek deh.

Hm... Hatiku terenyuh. Tiba-tiba sikap konyolku tenggelam dalam sikap dramatis.
“Kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi kalian tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka.”

Hatiku berdesir. Bagamana mungkin aku bisa berpikiran konyol seperti tadi sementara di sekitarku mungkin banyak manusia yang sedang menjerit menerima siksa kubur. Aku tak bisa lagi tersenyum. Aku bertanya-tanya, apakah sekarang eyang sedang di sidang oleh malaikat munkar-nakir? Atau eyang sedang di cambuk karena tidak bisa menjawab? Atau eyang sedang beristirahat dengan tenang dengan di layani malaikat-malaikat tadi? Berjuta-juta pertanyaan timbul di pikiranku. Aku takut bila aku harus di sidang sekarang. Apa yang bisa aku banggakan di hadapanMu nanti ya Robb? Hatiku merintih kembali mengingat dosa-dosa yang mungkin telah setinggi gunung Muria. Aku gemetar mengingat-ingat hadist nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari melalui Samurah bin Jundab.

Pada suatu pagi hari Rasulullah Saw menceritakan kepada kami apa yang dilihat dalam mimpinya tadi malam : “ Sesungguhnya tadi malam aku kedatangan dua malaikat. Keduanya membangunkanku dan berkata : ‘Mari kita pergi!’ Aku pergi bersama keduanya, hingga sampailah kami ke tempat seorang lelaki berbaring, namun di dekatnya terdapat lelaki lain yang berdiri dengan membawa sebuah batu besar, kemudian batu besar itu di hantamkan ke kepala lelaki yang berbaring sampai meremukkannya dan batunya menggelinding ke arah sini. Selanjutnya, lelaki yang berdiri mengambil batu besar itu, dan saat dia kembali kepada lelaki yang berbaring, ternyata kepalanya sudah kembali seperti semula, lalu dia mengulangi perbuatannya seperti semula terhadapnya. Melihat pemandangan yang mengerikan itu aku bertanya : ‘Mahasuci Allah, apakah yang dilakukan oleh keduanya?’
Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi justru berkata kepadaku : ‘Mari kita teruskan perjalanan kita!’

Kami berangkat hingga sampai ke tempat seorang lelaki yang sedang terlentang, dan ternyata di dekatnya terdapat terdapat lelaki lain yang berdiri dengan membawa pengait besi. Tiba-tiba ia mendatangi salah satu sisi wajahnya, lalu memasukkan pengait itu ke salah satu ujung mulutnya, kemudian merobeknya sampai ke tengkuk, memasukkan pengait ke lobang hidungnya sampai ke tengkuk, dan memasukkan pengait ke lobang matanya sampai ke tengkuk. Kemudian dia mendatangi sisi wajahnya yang lain, lalu merobek ujung mulutnya sampai ke tengkuk, merobek lobang hidungnya sampai ke tengkuk, dan merobek lobang matanya sampai ke tengkuk. Sesudah itu ia beralih lagi ke sisi yang lain dan melakukan lagi hal yang semula. Ketika ia sampai di sisi itu trnyata sisi yang telah di robeknya telah kembali seperti semula. Usai itu dia melakukan hal yang sama ke sisi lainnya lagi, demikianlah seterusnya. Aku berkata : ‘Mahasuci Allah, apakah yang dilakukan oleh keduanya?’

Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita teruskan perjalanan kita!’

Maka kami berangkat hingga sampai ke sebuah tempat seperti tungku yang besar, dari dalamnya terdengar suara jeritan dan tangisan. Maka kami melongokkan pandangan kami ke dalamnya, ternyata di dalamnya terdapat banyak orang laik-laki dan perempuan yang telanjang. Sementara luapan api memanggang mereka dari bawah; apabila api itu datang menyembur mereka, mereka menjerit jerit kepanasan. Aku bertanya; ‘Siapakah mereka?’

Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita lanjutkan perjalanan kita!’

Maka kami berangkat hingga sampai pada sebuah sungai yang bewarna merah seperti darah, dan ternyata di dalamnya terdapat seorang lelaki yang sedang berenang, namun di sisi sungai terdapat lelaki lain yang telah mengumpulkan banyak batu di dekatnya. Lelaki yang berenang itu menuju ke arahnya, dan apabila telah dekat, dia mengangakan mulutnya, lalu lelaki yang telah mengumpulkan batu itu menjejalkan batu ke dalam mulutnya. Selanjutnya lelaki yang berenang itu pun pergi, lalu kembali padanya, dia mengangakan mulutnya, lalu dijejali lagi dengan batu. Aku bertanya kepada kedua malaikat tersebut : ‘ Siapakah mereka berdua?’
Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita lanjutkan perjalanan kita!’
Maka kami berangkat hingga sampai ke tempat seorang lelaki berpenampilan paling mengerikan yang pernah aku lihat, dan ternyata di hadapannya terdapat api besar yang digiring dan diatur olehnya. Aku bertanya kepada kedua malaikat: ‘Siapakah orang ini?’

Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita lanjutkan perjalanan kita!’

Kami berangkat lagi hingga sampai pada sebuah taman yang penuh dengan pepohonan yang rindang, di dalamnya terdapat aneka ragam bunga-bungaan yang tumbuh pada musim semi. Dan ternyata sebelum kebun itu terdapat seorang lelaki yang postur tubuhnya sangat tinggi hingga aku hampir tidak dapat melihat wajahnya karena menjulang sangat tinggi ke atas. Di sekeliling lelaki itu terdapat banyak anak-anak yang jumlahnya belum pernah sama sekali sebanyak itu. Aku bertanya kepada kedua malaikat; ‘Siapakah mereka?’

Kedua Malaikat tidak menjawab, tetapi mengatakan berkata kepadaku : ‘Mari kita lanjutkan perjalanan kita!’

...
Aku bertanya kepada keduanya : ‘Sesungguhnya sejak tadi malam aku telah melihat banyak hal aneh, maka apakah sebenarnya yang telah kulihat itu?’ Keduanya berkata kepadaku : ‘ Sekarang kami akan menceritakan semuanya kepadamu. Adapun lelaki pertama yang tadai kamu lihat kepalanya di timpa batu besar, maka dia adalah seorang lelaki yang telah mempelajari Al Quran namun dia tidak mau mau membacanya dan tidur meninggalkan shalat fardhu. Lelaki kedua yang tadi kamu lihat di robek rahangnya sampai ke tengkuk, lobang hidungnya sampai ke tengkuk, dan lobang matanya sampai ke tengkuk, maka dia adalah seorang lelaki yang pergi di pagi hari dari rumahnya, lalu membual dengan kedustaan setinggi angkasa. Adapun mengenai banyak lelaki dan perempuan yang berada di sebuah tempat mirip tungku apu, sesungguhnya mereka adalah para pezina laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang tadi kamu lihat sedang berenang di sungai, lalu di jejali mulutnya dengan batu, maka dia adalah pemakan riba. Adapun lelaki yang penampilannya sangat mengerikan di dekat api yang di giring dan diaturnya, maka dia adalah Malaikat Malik penjaga neraka jahannam. Adapun mengenai lelaki yang ada di dalam taman, maka dia adalah ibrahim, sedang anak-anak yang ada di sekitarnya adalah setiap anak kecil yang meninggal dunia dalam keadaan fitrah.’...”


Hati ini semakin berdesir dan terenyuh. Ya Allah, apakah hambamu ini termasuk di antara orang yang engkau perlihatkan itu? Aku semakin takut. Aku takut bila sepulang dari sini aku di koyak oleh malaikat izroil dan kemudian di jebloskan ke jahannam. Huft. Aku benar-benar takut. Sementara di depan mataku terlihat seorang mayat yang sedang di kuburkan. Galian lubang itu di injak-injak. Tanahnya pun sudah hampir penuh. Sekarang sudah tak tampak lagi peti yang elok yang tadi baru saja di turunkan dari ambulan. Ya Allah, semoga hambamu ini dapat berkaca dan belajar dari kematian yang aku lihat ini. Semoga hambamu ini termasuk hamba yang engkau kasihi dan telah engkau sediakan satu tempat di surga, baik itu surga yang paling rendah sekalipun. Hatiku terus berharap dan berdoa. Ada embun yang menetes di kalbu. Sementara talqin sedang di bacakan, pikiranku melayang jauh entah kemana.
15:40
Selasa, 13 Juli 2010

Dari Sosokmu Aku Bercermin

Sendiri. Malam ini aku kembali sendiri. Di rumah yang tak besar aku nyalakan sebuah lentera pencerah hati. Bersandar pada dinding tembok berdebu, ku hempaskan rinduku dengan memandangi album-album kenangan yang telah usang.

Aku sedikit tersenyum. Aku mulai sadar. Hm... di sini ramai sekali, aku tak sendirian. Kesendirianku diiringi suara jangkrik bersaut-sautan. Dengung nyamuk pun tak mau kalah. Terkadang mereka hinggap, lalu kembali berkampanye di sekitar telingaku. Bising sekali.. mereka lapar rupanya. Ups.. ada cicak bersuara. Sepertinya dekat, ya sangat dekat. Mereka berteriak teriak seakan mengomandokan pada pasukannya bahwa waktu berburu tiba. Sungguh harmoni alam yang indah. Ya, Aku sadar, bahwa aku tak pernah sendiri. :D

Akh..lagi-lagi ada drakula yang datang. Dia menghisap tengkuku.. Aw...Ah sudahlah, biarkan saja. Hm.. sesaat aku lupa akan kesendirianku. Tapi hanya sesaat,ya sesaat.
Aku dihadapkan kembali pada sebuah kenyataan bahwa sudah dua tahun aku sendiri. Sendiri menghadapi badai dan kejamnya para drakula.

Aku teringat sepuluh tahun silam. Awal mula aku masuk sekolah. Ya, sekolah dasar.

Pagi itu, Bunda bangun lebih awal. Sebelum adzan subuh, bunda sudah bergegas menyiapkan bekal untuk ayah. Memang terlalu dini, tapi itu sudah menjadi rutinitas kami. Seusai subuh Ayah keluar rumah, aku pernah melihat beliau berangkat. Aku melihat beliau mencium bunda. Kecupan perpisahan di kening, kemudian pipi. Tapi beliau teringat sesuatu, ya, teringat aku. Beliau berjalan ke kamarku dan beliau mengecup keningku. Damai sekali rasanya. Aku merasakan kasih sayang ayah. Ayah bekerja di luar kota, seratus lima puluh kilometer adalah jarak yang harus beliau tempuh setiap hari. Jauh banget ya...

Sementara semua telah siap di meja makan, Bunda bergegas membangunkanku. Dengan kasih sayangnya di goyang-goyangkan tanganku, lalu badanku, dan karena tak sabar, tiba-tiba kepalaku.

Kurasakan cubitan sedikit emosi mendarat di pantatku. Ups, beliau tidak sabar, beliau mencubit pipiku. Dengan polos aku menggeliat, berubah posisi menyamping, lalu kembali memejamkan mata. Ya sedikit keterlaluan bila kuingat sekarang, tapi lucu juga, :D

Hm, belum selesai juga perjuangan Bunda. Beliau kembali masuk ke kamarku. Dan oh, ternyata, kali ini dengan muka “sangar” bak pendekar. Beliau masih kukuh membangunkanku. Aku merasakan sedikit aliran listrik. Ya, makin lama makin mengagetkan. Aku merasa tersengat. Aw...Ternyata bunda menyegatku dengan raket nyamuk yang baru di beli kemaren lusa. Huft keterlaluan memang. Aku merasa jengkel dengan bunda bila teringat.

“ Banguuun sayang..ayo bangun. Solat, trus mandiii..hari ini kamu daftar sekolah lho..”

Otomatis aku menangis, karena cara bunda memang keterlaluan. Masa anak sendiri di samain sama nyamuk. Huft.. tapi senyumku melebar waktu kejadian itu teringat :D. Aku merasakan kasih sayang bunda. Beliau memelukku lalu berusaha meredakan tangisku. Tapi badanku tersentak, beliau mendorong seraya kaget.

“ Sayang..!!! Kamu ngompol lagi? Aduh...ayo cepetan mandi..!!! “.

Aku tertawa, dulu aku memang jagoan ngompol. Ya, aku polos itu dulu memang hobi ngompol.

Pukul tujuh kurang sedikit aku sudah siap. Memakai kemeja terbaik dan tas robocop membuat aku merasa jadi cowok paling ganteng sedunia (hueeek, Ups..maklum masih kecil). Dalam hati aku berkata,”Aku siaaap sekolah bundaaa”.

Saat yang sama bunda masih sibuk menyalakan motor BMW-ku (bebek merah warnanya, itu sebutan buat motor bebek bututku, biar keren aja ) . Sudah lebih dari sepuluh menit tapi motor butut itu belum juga menyala. Bunda masih berusaha, terkadang beliau berhenti sejenak untuk mengusap keringat yang mulai menetes. Bunda bekerja keras, aku mulai tak tega. Memang hanya motor tua itu yang kami punya saat itu. Bunda sendiri tak pernah mengeluh pada ayah, walau motor itu sering mogok sekalipun. Bunda menerima apa adanya.

Back to story, Bunda terus bekerja keras, beliau tidak mau melihat anaknya gagal dalam pendaftaran sekolah favorit di kota kami ini. Beliau terus berusaha.
Ya ya ya, Bunda nampak putus asa. Aku pun begitu. Aku merasa aku adalah anak paling malang di dunia . Yah mungkin ini memang belum waktunya aku mengeyam sekolah. Mungkin baru tahun depan. Huftt, aku bersandar pada sepeda tua milik kakek. Bunda menatapku sambil tersenyum gembira. Aku masih saja murung. Dengan semangat bunda menghampiriku. Oh bukan, ternyata menghampiri sepeda tua milik kakek.

“ Sayangg..Ayo naikk..kita sudah hampir terlambat.”

Senyum bunda mengembang tanda munculnya secercah harapan. Aku pun ikut tersenyum. Dan dengan semangat aku naik di bocengan belakang. Ku dekap pinggang bunda erat-erat. Cihuiii...teriaku dalam hati. Maha GO!!! Maha GO!!!

Sepeda Unta itu pun melaju. Aku tetap berpegangan. Ups ... Klotak klotak.. begitulah bunyinya. Sepeda ini memang sudah tua, jadi baut yang terpasang pun sudah tidak kencang lagi. Semangat Bunda benar-benar membara. Dengan sekuat tenaga beliau terus memacu sepedanya. Kecepatan pun semakin bertambah. Peganganku jadi makin erat. Aku sedikit terkejut, Bunda menyalip sepeda motor HONDA, wow.. Wow lagi, Bunda menyalip delman kali ini, mobil pick up juga tersalip. Aku mulai kagum pada bundaku. Ternyata bunda hebat. Wah... .

* * *

Jam tujuh dua puluh delapan menit aku tiba di sekolah. Terlihat antrian yang sangat panjang. Kemudian kami terjun ke arena peraduan nasib itu. Kami memegang nomor 239, dan kami lah pendaftar terakhir. Aku benar-benar bersyukur. Bersyukur karena aku punya Bunda yang hebat.

* * *

Dari sanalah aku bercermin. Aku bercermin pada diri bunda. Bunda yang terus semangat tak pernah putus asa. Bunda yang gigih. Bunda yang penyayang dan Bunda yang berjuang demi masa depanku. Ya, masa depan anak bungsunya,

Beliaulah orang yang paling aku sayangi. I Love You Bunda.

Selesai

Tanpa edit
11 Juli 2010

Doaku Tak Diterima

Suara Hati

Haris masih saja termenung. Dia merasa jauh dengan Allah. Dia seakan kehilangan cahaya kedamaian yang baru saja dia renggut. Dia baru saja merasa dekat dengan Allah. Dia baru saja merengguk manisnya iman, dan dia baru saja keluar dari neraka, neraka yang selama ini telah memenjarakan dirinya. Allah telah berbaik hati menarik dirinya keluar dari pintu kemaksiatan. Tapi kini berbeda. Jiwanya kering kerontang, dia kehilangan semuanya. Setelah hijrah beberapa waktu lalu, dia merasa sendirian. Dia merasa bahwa Allah telah pergi jauh meninggallkannya. Tidak ada lagi payung yang meneduhkan jiwa seperti sedia kala.

“Apa yang terjadi, kenapa hatiku tak tenang, kenapa langkahku selalu saja berat, kenapa mataku tak bisa terlelap.” Sekarang dia benar-benar jauh. Jauh sekali dengan-Nya. Iman yang selama ini bersemi mulai berguguran dan sekarang seakan gundul di tengah kemarau yang panjang.

Lingkungannya sekarang telah membuat dirinya jauh, jauh sekali dengan Allah. Doa-doanya pun seakan tak berbalas. Dia sering mengeluh, dia mengolok-olok Allah. Dia sering kesal, baik pada dirinya sendiri ataupun merembet pada apa yang dia lihat. Dia merasa bahwa Allah sudah tidak sayang lagi padanya. Doa yang trus ia panjatkan pun tidak pernah berbalas, bahkan di hatinya pun tidak ada ketenangan.

Dia kembali termenung. Tiba-tiba matanya terbelalak. Dia tidak bisa mengelakkan pandangannya dari buku yang dia pangku. Hatinya mulai merintih.

“Doa kalian tak akan dikabulkan karena hati kalian telah mati oleh 10 hal:
Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya.
Ke-dua, kalian mengaku cinta Rasulullah SAW tetapi meninggalkan sunnahnya.
Ke-tiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya.
Ke-empat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya. ...”


Haris berhenti membaca sejenak. Dia menghela nafas, seraya mengelus dadanya. Kalimat-kalimat itu seakan semua yang terjadi pada dirinya. Dirinya yang terombang-ambing karena berada di lingkungan yang penuh maksiat. Dia kembali berusaha mengarahkan matanya pada buku itu. Bibirnya kembali bergetar.

“Ke-lima, kalian mengatakan bahwa syaithan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya.
Ke-enam, kalian katakan bahwa surga itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya.”


Haris berdiam diri sejenak. Bahkan hampir semua itu dia lakukan. Tapi kenapa dulu doanya di kabulkan Allah. Dia pernah berdoa agar mendapatkan nilai baik. Juga pernah berdoa agar dia bisa masuk ke universitas yang dia inginkan. Dan banyak lagi doa-doa yang dia panjatkan. Tapi kenapa semua itu terkabul? Apakah hanya keberuntungan. Atau apa. Dia memenuhi otaknya dengan berbagai pertanyaan.

Tapi pertanyaan itu seakan hilang, lenyap, ketika dia mengingat dosa-dosa yang sudah ia lakukan. Sambil terisak dia meneruskan membaca.

“Ke-tujuh, kalian katakan bahwa neraka itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya.
Ke-delapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya.
Ke-sembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri.
Ke-sepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka.”1

Dirinya seakan sadar. Dari kesepuluh hal yang di paparkan, hampir semuanya mencerminkan dirinya. Rasa kesal mucul begitu saja. Air mata pun mengalir deras. Selama ini dirinya telah lupa pada perintah Allah. Dia hanya menuntut, menuntut kepada Allah atas segala yang dia inginkan. Dia semakin takut karena selama ini Allah tidak kembali mengulurkan hidayahnya untuk kembali ke jalan yang benar. Sampai tiba saat ini. Dia mencaci maki dirinya sendiri. Dia benar-benar merasa sangat berdosa. Tangisannya semakin deras. Buku itu pun terkena beberapa tetes air mata penyesalan. Haris langsung bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Kini dia sadar bahwa apapun yang dia lakukan harus kembali berpijak di atas al-quran dan sunnah.

katagori : cerpen


1 Mi’ah Qishshah Wa Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin karya Muhammad Amin al-Jundi, Juz.II, hal.94)

Senin, 19 Juli 2010

Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi!

Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi!
Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi!
Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi!

Aku kembali lagi dengan sebuah kisah sendu sekaligus cerah. Dalam kesendirian dan perkelanaan yang panjang, terkadang jiwaku kering. Jiwaku haus akan siraman embun-embun sejuk dari langit. Diri ini terkadang futur (kembali melakukan maksiat) saat harus berdiri sendiri melalang buana melangkahkan kaki meninggalkan halaqoh yang selama ini terus menguatkan. Halaqoh yang selama ini kembali menginstall ulang iman yang meredup. Ya, sekarang aku tetap sendiri. Aku berpisah dengan sembilan laskar jihad lainnya yang kini terpencar ke tiga penjuru mata angin. Kadang hati ini merasa risau. Hati ini takut bila nanti tidak menemukan kedamaian dan manisnya iman. Diri ini takut bila tidak ada yang menopang, bila diri ini tidak kuat berdiri dan terjatuh karena imbas lingkungan yang aku sendiri belum tahu seluk beluknya.

Jiwa yang sepi ini tiba-tiba tercerahkan. Aku membaca kata-kata yang membuatku merasa segar. Membuat jiwa ini merasa begitu bodoh dan bejat jika tetap harus bersimpah dosa menapaki jalan ini.

Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi! (yang artinya : Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku). Bibirku terus berucap. Kalimat itu ku tanamkan dalam-dalam di jiwaku. Sudah lama diri ini tak sadar akan futurnya diri. Bagiku kalimat itu membuat aku tidak merasa sendirian. Walau jauh dari sembilan laskar jihad, tapi aku akan berusaha tetap berdiri kokoh.

Aku teruskan membaca buku yang telah memberikan embun penyegar jiwa ini. Aku membaca sebuah kalimat yang dikatakan Muhammad bin Sanwar kepada keponakannya Sahl bin Abdullah Al-Tastari.

‘Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai Allah, dilihat Allah, dan di saksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’

Pertanyaan itu seakan mengarah pada diriku sendiri. Akan kah aku berbuat maksiat di tengah kesendirian ini? Bagaimana dengan menjaga diri dari dosa? Apakah sudah aku lakukan? Apakah selama ini aku tetap tenang di saat penggoda iman berlalu lalang? Atau aku terpengaruh dan terperanjat dalam lingkarang setan?

Aku hanya bisa bersimpuh. Jiwa ini kembali takut akan adzab Allah yang pedih. Tentu semuanya harus di jawab dengan kata TIDAK. Tapi aku ragu mengucapkannya. Karena aku tahu, bahwa diri ini tidak suci. Baik secara sadar ataupun tidak sadar, diri ini terus melakukan maksiat. Tapi aku berkeinginan keras untuk keluar, aku berkeinginan membersihkan diri dari segala debu yang selama ini menempel menutupi jiwa yang sebenarnya bersih. Insya Allah, semoga Allah terus menguatkan jiwa ini.

Hm.. bukan hanya aku yang merasakan kedahsyatannya.

Kalimat Allahu ma’i. Allahu naadhari. Allahu syaahidi! Sangat terkenal di kalangan ulama arif billah. Kalimat ini dikenal dengan kalimat pengusir maksiat. Ya seperti kutipan di atas, Bagaimana kita akan melakukan maksiat bila kita selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah???

Maknanya yang dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah ( selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah Azza wa Jalla, dimana dan kapan saja.

Begitulah yang dipaparkan oleh Syeikh Al-Azhar; Imam Abdul Halim Mahmud. Aku sendiri sangat amat setuju sekali. Ya, khususnya bagi diriku sendiri. Tidak bosan-bosan aku ajukan pertanyaan ini pada diriku sendiri:

Bagaimana kita akan melakukan maksiat bila kita selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah?

Sesungguhnya rasa itu akan menumbuhkan takwa yang tinggi kepada Allah Swt. Aku hanya akan merasa bodoh, jika setelah aku menulis ini lalu aku sendiri tetap melakukan maksiat dan terus berjalan di rel dosa. Semoga mulai hari ini hatiku tetap teguh. Insya Allah.

Semoga diri ini selalu di beri kemudahan dalam berjalan dalam dien ini. Semoga diri ini terjaga. Insya Allah.

19 Juli 2010

Minggu, 18 Juli 2010

Tentang saya

Assalamu’alaikum.

Kembali saya ingin mengucap syukur kepada Allah Azza Wa Jalla, karena sampai saat ini saya masih bisa tetap teguh di jalannya. Masih tetap dalam Islam, Alhamdulillah. Dan tentunya masih berbekal iman. Insya Allah.

Nama saya ??? Hm... cukup panggil dengan AHANSAJUNIOR saja :). Sedikit perkenalan. Saya lahir di Banyumas, 7 September 1992. Saya lahir dalam keluarga seni. Ayah saya seorang musisi, seniman, pelukis, pelawak, dan sekarang terperangkap dalam suatu angkatan darat ( TNI-AD). Ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Kami hidup berempat. Tapi juga di empat tempat yang berbeda. Saya di depok, kakak di semarang, ayah di timika, dan ibu di suatu kota kecil di jawa tengah. Aneh bukan? Ya, keadaan lah yang mengharuskan kami hidup seperti ini. Tragis memang, tapi hal itu menjadikan saya pribadi yang kuat, walau terkadang juga rapuh.

Hari ini adalah hari yang berarti bagi saya. Saya amat bersyukur. Karena sampai sekarang saya masih berkesempatan untuk hidup. Berkesempatan untuk membagi kisah-kisah hidup saya. Dan saya bahagia karena sampai sekarang saya masih di ijinkan untuk bisa belajar, belajar banyak hal. Tentunya islam.

Setelah sekian lama saya tidak memegang pena, seminggu yang lalu pena itu kembali melekat dan mengalirkan kisah-kisah dari tangan saya. Saya ber terima kasih kepada Allah Swt yang melalui Jonru, Dia mengirimkan sebuah karya yang membuat saya terinspirasi.

Alhasil sekarang saya mulai suka dengan dunia jurnalistik.Dan mudah-mudahan dunia baru ini akan membuat saya menjadi pribadi yang kreatif dan imajinatif. Insya Allah.

Di sinilah saya keluarkan isi hati saya. Jadi maaf bila mungkin anda banyak membaca hal yang tidak penting. Melalui blog ini saya berharap semoga tulisan-tulisan saya bermanfaat dan bisa menjadikan pelajaran bagi para pembaca. Insya Allah.